Adil Tarigan Manusia Pemburu Tikus

Sejak dahulu, hama tikus merupakan musuh paling ditakuti bagi para petani Lebong. Meskipun sempat menyandang status lumbung padi era pak Suharto. Kaca mata para petani tetap khawatir dengan keberadaan tikus yang semakin hari  jumlahnya mencapai ribuan ekor. Hal ini dikarenakan seekor tikus betina bisa melahirkan 80 ekor dalam satu kali musim panen. Bayangkan, apabila ada 20 ekor tikus  betina yang melahirkan selama musim tanam, sudah berapa ribu ekor tikus yang akan merusak mata pencaharian para petani.


Sejak dahulu, hama tikus merupakan musuh paling ditakuti bagi para petani Lebong. Meskipun sempat menyandang status lumbung padi era pak Suharto. Kaca mata para petani tetap khawatir dengan keberadaan tikus yang semakin hari  jumlahnya mencapai ribuan ekor. Hal ini dikarenakan seekor tikus betina bisa melahirkan 80 ekor dalam satu kali musim panen. Bayangkan, apabila ada 20 ekor tikus  betina yang melahirkan selama musim tanam, sudah berapa ribu ekor tikus yang akan merusak mata pencaharian para petani.

Menurut cerita para petani, Lebong tidak bisa menanam dua kali dalam satu musim. Khususnya di wilayah enam kecamatan, seperti Kecamatan Bingin Kuning, Lebong Sakti, Lebong Tengah, Amen, Lebong Utara dan Uram Jaya. Konon katanya menurut mitos, 6 kecamatan ini sudah dikutuk para leluhur sejak zaman dahulu kala.

Kondisi ini membuat perekonomian Lebong selama satu tahun mendapat sebutan dua musim. Musim pertama disebut musim panen gabah kering. Sedangkan, musim yang kedua disebut musim paceklik”. Menurut kamus pertanian, musim paceklik merupakan musim kekurangan pangan sebab pertanian mengalami kegagalan hasil panen. Namun, dalam keseharian sehari-hari masyarakat Lebong, musim paceklik dinilai kondisi keuangan masyarakat lagi merosot.

Kondisi tersebut tidak terjadi kepada bapak Adil Tarigan selaku penggiat pertanian. Pria kelahiran Medan tanggal 12 Desember 1962 ini terus menggalakkan para kelompok tani untuk tetap menanam dua kali dalam satu musim. Dirinya yang berprofesi sebagai Kordinator Penyuluh (Korlu) Pertanian sekaligus kepala BPP3K Kecamatan Amen dalam keseharian nya terus memburu hama-hama tikus selama musim tanam hingga gabah kering panen.

Menurutnya, potensi gabah kering panen di enam Kecamatan tersebut mencapai 6.000 Hektar. Sementara penghasilan petani satu musim selama per enam bulan panen rata-rata mencapai 5 hingga 5,5 ton per hektar. Artinya, dengan nilai jual rupiah mencapai Rp. 4.300 per kilo, para petani bisa meraup penghasilan sekitar Rp. 20 juta  per hektar  sekali panen.

"Kalau di jumlahkan selama satu musim para petani Lebong bisa meraup uang mencapai Rp. 120  Milyar. Itupun baru sekali tanam, coba kalau nanam dua kali selama semusim. Angka tersebut setidaknya bisa meningkatkan perekonomian Lebong,” kata Tarigan kepada RMOL Bengkulu, Minggu (12/11/2017).

Tarigan juga mengeluhkan, sikap petani yang terus percaya Lebong tidak bisa menanam dua kali dalam semusim. Bahkan, pernyataan tersebut pernah di sampaikan para petani secara langsung kepada dirinya. Lebih jauh lagi, untuk menutupi kekhawatiran para petani tersebut, pihaknya telah menawarkan uang pertanggungan (UP) sebesar Rp. 6 Juta per hektar dengan melibatkan pihak asuransi milik BUMN PT. Jasindo.

"Misal nih, dalam satu hektar terdapat 6 petak sawah. Dan satu petak sawah dengan estimasi 1 juta. Apabila gagal panen terjadi pada 2 petak sawah, maka UP nya sebesar 1,5 Juta,” jelas Tarigan.

Tak hanya itu, meskipun di anggap tak akan berhasil. Tidak menutup niat nya, untuk tetap menanam padi dua kali selama satu musim. Percobaan tersebut di lakukan nya di Desa Sukarajo Kecamatan Amen dengan umur padi  telah menginjak 25 hari.

"Dengan luas lahan mencapai 7 Hektar ini, kita telah menyiapkan 200 kg bahan kimia jenis Petrokum untuk membunuh hama tikus. Kita tetap yakin, Lebong bisa menanam dua kali,” tutup Tarigan.[R90]